MPP - Kerjasama yang dilakukan Pemprov DKI dan Kementerian ESDM untuk menyediakan Bahan Bakar Gas (BBG) bus Transjakarta, dinilai sebagai solusi yang tepat untuk mengatasi keterbatasan bahan bakar.
Pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna, mengatakan kerjasama tersebut akan menyelesaikan persoalan bus Transjakarta, yakni keterbatasan bahan bakar. Karena menurutnya masalah tersebut sudah ada sejak bus Transjakarta pertama kali beroperasi.
"Keterbatasan BBG selama ini membuat operasional bus Transjakarta tidak maksimal. Karena harus mengantri (isi BBG), membuat tak menentunya waktu kedatangan dan keberangkatan bus Transjakarta," ujar Yayat, Sabtu (7/9/2013).
Yayat menilai, apabila pengisian BBG itu ditambah unit mobil gas atau mobile refueling unit (MRU), maka bakal semakin mempermudah pergerakan bus Transjakarta.
"Kebijakan pemerintah pusat untuk menyediakan gas beserta MRU selaras dengan rencana Gubernur DKI untuk melakukan revitalisasi angkutan umum," paparnya.
Ia menjelaskan, revitalisasi itu yakni Kopaja dan Metromini yang sudah usang bakal direvitalisasi dengan armada yang baru dan semuanya juga berbahan bakar gas.
Menurutnya kebijakan kedua institusi ini sebagai langkah komunikasi yang baik antara kedua pemimpin. Mengingat pada masa pemerintahan sebelumnya sulit terlaksana.
Yayat juga menyarankan kepada Kementerian ESDM dan Pemprov DKI Jakarta melakukan koordinasi yang baik dalam penyediaan konverter kit. Penyediaan alat ini juga diharapkan dalam bentuk subsidi.
Kemudahan dan murahnya alat ini akan membuat para pemilik kendaraan beralih mengunakan gas. Meski kedua belah pihak harus menjamin keamanan dari pengunaan gas itu sendiri.
"Ciptakan satu juta kendaraan mengunakan gas. Jika ini berhasil, maka program ini dapat menekan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), dan green transportasi akan dimulai di Jakarta," tandasnya.
